Belajar Mendongeng dari Warto Kemplung

foto novel Dawuk - dok pribadi

Beberapa waktu yang lalu, lewat akun facebook-nya, penulis buku kumpulan cerpen ‘Bakat Menggonggong’, Dea Anugrah membagikan kenangannya perihal momen pertama ia masuk sebuah kantor media. Dea bercerita bahwa saat itu salah seorang kawannya di kantor tersebut berkata, “kami bekerja dengan data. Kami mengumpulkan data, primer dan sekunder, lalu menyajikannya sebagai karya jurnalistik yang sedap dibaca”.

Novel ‘Dawuk’ yang akan dibahas di sini jelas bukanlah salah satu karya jurnalistik. Tapi gaya bercerita yang disampaikan dalam novel besutan Mahfud Ikhwan tersebut rasanya patut diacungi jempol. Novel ini berkisah tentang salah satu episode kelam dalam kehidupan Mat Dawuk, seorang lelaki yang digambarkan Warto Kemplung dengan sangat-sangat-sangat-jelek dalam cerita tersebut. Bisa dikatakan tidak ada satupun hal yang menarik dalam perawakan Mat Dawuk. Cerita disampaikan lewat penuturan Warto Kemplung, seorang warga Rumbuk Randu yang terkenal dengan reputasinya sebagai seorang pembual. Dijuluki warto yang artinya berita, sedangkan kemplung artinya bohong atau bualan.

Tapi bualan Warto Kemplung bukanlah bualan biasa. Mahfud menempatkan Warto Kemplung sebagai pendongeng yang ulung. Narasi-narasi yang disampaikannya mengandung beberapa deskripsi yang cukup jelas. Contoh sepelenya adalah saat Warto Kemplung beberapa kali menggambarkan waktu dan jarak dengan menggunakan satuan rokok. Tentu saja satuan ini yang dipilih mengingat Warto Kemplung adalah perokok berat, dan sepertinya rokok merupakan syarat wajib supaya dongeng bisa meluncur dengan deras dan lancar dari mulutnya. Rokok dan kopi, tentu saja. Kisah yang disampaikan oleh Warto tidak hanya fokus pada tokoh dan peristiwa, tapi juga lengkap berikut dengan sejarah atau fakta-fakta geo-politik yang berhubungan. Bias antara fiksi dan fakta niscaya akan anda temui di sini, suatu hal yang membuat anda bertanya-tanya. Ini sebenarnya fiksi yang dikemas dengan metode jurnalistik atau fakta yang diolah menjadi fiksi?

Lokasi yang dipilih oleh Mahfud sebagai tempat berkiprahnya Warto Kemplung juga sangat tepat. Yakni warung kopi, tempat di mana segala macam cerita bisa kita dapatkan di sini. Barangkali kita sering dengar orang menyampaikan berita yang tidak biasa, info-info off the record yang absen dari forum resmi, sambil mengatakan bahwa ia dapatkan itu dari obrolan warung kopi. Lupakan sejenak istilah kopi sachet, speciality coffee atau istilah yang lain. Pokoknya warung kopi!

 

Identitas Mahfud Ikhwan yang berserakan

Boleh dikatakan Mahfud tak segan-segan menutupi identitas dirinya dalam karyanya ini. Yang pertama adalah soal musik dan film India yang begitu dominan dalam novel ini. Jangan heran, karena ini sudah jelas merupakan pengejawantahan dari selera musik dan film sang penulis, Mahfud Ikhwan. Sebelum Dawuk, Mahfud melahirkan karyanya yang berjudul “Aku dan Film India Melawan Dunia” (2017). Buku ini adalah rangkuman dari tulisan-tulisan soal film India di blog pribadinya. Terus terang saya bukanlah seorang penggemar film India. Satu-satunya film India mainstream yang saya tonton, film ala Bollywood yang menampilkan tarian dan goyangan adalah Kuch Kuch Hota hai. Memang ada lagi film India yang saya tonton, judulnya The Lunchbox (2013) yang dibintangi oleh Irfan Khan dan Nimrat Kaur. Namun film yang bercerita soal adanya ‘lubang’ dalam suatu sistem pengiriman kotak makanan di Mumbai yang terkenal efisien ini rasanya bukan termasuk genre film india yang dimaksud dalam novel Dawuk. Pun seandainya dalam film tersebut Saajan Fernandez (Irfan) dan Ila (Nimrat) akhirnya bertemu muka, niscaya mereka tidak akan mendendangkan lagu, bergelayutan di tiang atau berlarian di taman bertabur bunga dan menari bersama.

Tapi karena beberapa kali melihat nama Sunny Deol dan film “Betaab” yang merupakan film favorit Mat Dawuk dan istrinya, Inayatun dalam novel ini, mau tak mau saya tergerak untuk mencari tahu lebih banyak. Film Betaab adalah film roman genre Bollywood yang diproduksi pada tahun 1983. Film ini diklaim sebagai film yang cukup tenar pada zaman itu. Tak salah kalau Warto Kemplung begitu mendamba-dambakan film ini, sampai-sampai ia berseloroh bahwa seluruh jalur Pantura dari Serang hingga Pasuruan sempat dibuat geger gegara film tersebut.

Faktanya, film yang disutradarai Rahul Rawail dan merupakan debut Sunny Deol dan lawan mainnya, Amrita Singh ini hanya diganjar rating 6.7 di situs imdb. Selain itu dikatakan bahwa film ini sebenarnya memperoleh banyak nominasi pada Filmfare, sebuah ajang penghargaan yang digelar oleh The Times Group untuk kalangan artis dan professional di industri perfilman India. Sayangnya tak ada satupun nominasi yang dimenangkan Betaab.

Beralih dari film india, identitas Mahfud terlihat dari bagaimana ia menyelipkan problem sosial yang terjadi di Rumbuk Randu. Warto Kemplung tidak hanya bercerita soal letak geografis Rumbuk Randu dalam peta tapi juga berbicara soal kehidupan masyarakat di sana, lengkap dengan penuturan latar sejarah yang berhubungan, termasuk juga gesekan-gesekan yang terjadi antar warga. Warto merangkainya dalam aliran cerita yang tidak membosankan, tidak membuat ngantuk, pun membuat kita tak sadar bahwa sebenarnya hal-hal yang disampaikan sedikit banyak merupakan kritik sosial dari sang penulis. Dari mulai perubahan kehidupan masyarakat Rumbuk Randu yang semula penggarap lahan perkebunan, blandong (pengambil) kayu jati hingga menjadi buruh migran di Malaysia.

Apabila anda adalah penggemar Mahfud Ikhwan, kritik sosial ini sebenarnya tidak terdengar asing dan bukan merupakan hal yang baru. Soal berbondong-bondongnya orang-orang di pesisir Pantai Utara Jawa bagian timur yang tertarik menjadi TKI di negeri jiran Malaysia sudah pernah dibeberkan dengan sangat rinci oleh Mahfud dalam novel pertamanya, Ulid (2009). Walaupun nasib buruh di sana tiada beda dengan penghidupan di daerah asal, sama-sama jadi buruh kayu di hutan, tapi orang-orang tersebut meyakini bahwa pundi-pundi mereka lebih cepat terisi berkat ringgit Malaysia.

Lalu ada juga soal sepakbola. Perlu diketahui bahwa Mahfud Ikhwan adalah penggemar olahraga tersebut dan sering menulis soal ulasan sepakbola lewat salah satu blog-nya; belakanggawang.blogspot.com. Memang tidak banyak hal terkait sepakbola yang terlihat dalam novel ini. Setidaknya saya melihat salah satunya pada saat Warto Kemplung bercerita soal kepiawaian Mat Dawuk menghabisi lawannya dan menyamakan tendangan Mat layaknya tendangan voli Marco Van Basten ke gawang Uni Soviet saat final piala Eropa tahun 1988. Batin saya berkata, “ini sih Mahfud banget..!”.

Hal yang paling utama dari gaya dongeng Warto Kemplung adalah bahwa anda akan tenggelam dalam kisah-kisah yang disampaikan olehnya. Buku ini sebenarnya sudah ada di tangan saya tak lama setelah rilis pre-order dari penerbit, yakni bulan Juni 2017 yang lalu. Sayangnya karena kesibukan dan hal lainnya (termasuk daftar buku yang ternyata lebih menuntut untuk diselesaikan terlebih dahulu), novel Dawuk ini tak kunjung saya bereskan. Suatu ketika saya berniat untuk membaca ulang dari awal, walaupun sebenarnya saya sudah mencapai pertengahan buku. Hasilnya, dalam kurun waktu dua hari, saya berhasil menyelesaikan novel ini. Barangkali saya pun terhipnotis seperti sang raja yang dibuai oleh cerita Shahrazad dalam Kisah Seribu Satu Malam.

Hal yang minor – kalau tak mau dibilang kekurangan – dari novel ini adalah agak lambatnya alur cerita. Keseruan dan benang-benang kusut baru mulai terurai setelah kita mencapai halaman 122 dari total 182 halaman. Bukan berarti 60 persen bagian awal cerita tidak menarik, hanya saja kita baru akan mendapatkan momen “ahaa” dan manggut-manggut setelah melampaui sebagian besar cerita. Hal yang sama sebenarnya bisa juga dilihat dalam karya Mahfud yang lain, yakni novel Kambing dan Hujan.

Pada akhirnya novel Dawuk ini tetap sangat layak untuk dikonsumsi. Epilog yang sudah pasti tidak akan sama dengan apa yang anda tafsirkan lewat bab-bab sebelumnya jelas menjadi bumbu tersendiri. Tak heran kalau novel ini menggondol gelar juara Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 yang lalu, sebuah penghargaan yang pantas untuk jerih payah Warto Kemplung…eh Mahfud Ikhwan. []

4 thoughts on “Belajar Mendongeng dari Warto Kemplung

  1. Emang dahsyat ini Novel. Setelah Dawuk saya jadi ikuti sepak terjang Mahfud Ikhwan. Terbaru bulan lalu baca kumpulan tulisan sepak bola di Geotimes dibukukan Shira Media. Lumayan berisi rangkuman musim 18/19

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s