Some of Chapter 10 : Building Bridges from Three Cups of Tea

three cups of tea

Suara lelaki di ujung sambungan terdengar seolah-olah berasa dari ujung bumi sebelah sana, padahal Mortenson tahu betul bahwa jarak mereka tidak terpisah lebih dari dua ratus kilometer. “Katakan lagi?”, Suara itu bertanya.

Salaam Alaaikum, Mortenson sedikit berteriak dalam hening. “Aku perlu 5 buah kumparan kabel baja ukuran 400 kaki. Tipe tiga serat. Apakah anda punya, Tuan?”

“Tentu saja.” , Jawab lelaki itu, mendadak sambungan telpon terdengar jernih. “Satu setengah lakh rupees untuk satu kabel. Bagaimana?”

“Apa aku punya pilihan?”
“Tidak”, si kontraktor itu tertawa. “Aku satu-satunya orang di daerah Utara sini yang punya kabel sebanyak itu. Boleh aku tahu nama anda?”

“Mortenson, Greg Mortenson.”
“Darimana anda menelpon tuan Greg? Apa anda juga berada di Gilgit?”
“Aku di Skardu.”
“Dan bolehkah aku tahu untuk apa kabel sebanyak itu?”
“Kampung kawanku di bagian atas Lembah Braldu tidak memiliki jembatan. Aku membantu mereka untuk membangunnya.”
“Ah, anda orang Amerika, betul?”
“Betul, tuan.”
“Aku sudah dengar tentang jembatanmu. Apakah jalan ke kampungmu bisa dilewati mobil Jeep?”
“Asalkan tidak turun hujan. Bisa anda kirimkan kabelnya?”
“Inshaallah.”

Allah berkehendak. Bukan jawaban ‘tidak’. Itu adalah tanggapan luar biasa yang pernah didengar Mortenson setelah lusinan kali ia mencoba menelpon, dan juga satu-satunya jawaban realistis¬† untuk menjawab setiap pertanyaan yang muncul sehubungan dengan masalah transportasi di Daerah Utara. Dia mendapatkan kabel, barang terakhir dan paling untuk membangun jembatan. Saat itu awal bulan Juni 1995. Andai tidak ada masalah, jembatan itu akan selesai sebelum musim dingin, dan pembangunan sekolah bisa dimulai pada musim semi setelahnya.

Dari semua kegelisahan yang disampaikan Mortenson, agak mengherankan saat Jean Hoerni cukup kalem sewaktu menuliskan cek lagi untuknya senilai sepuluh ribu dollar.
“Kamu tahu, beberapa mantan istriku bisa menghabiskan jumlah yang lebih dari itu hanya dalam waktu seminggu”, katanya. Bagaimana pun juga, ia tetap menuntut janji.
“Bereskan pembangunan sekolah secepatnya. Lalu kirimi aku foto”, pinta Hoerni.
“Aku tidak beranjak muda lagi.”
Mortenson dengan senang hati meyakinkannya bahwa ia akan menepati janji.

“Orang ini punya kabel?”, Tanya Changazi.
“Dia punya.”
“Dan berapa harganya?”
“Seperti yang kau bilang, delapan ratus dollar per kumparan.”
“Dia akan kirimkan keatas?”
“Inshaallah,” jawab Mortenson, sembari menutup telepon dari Changazi. Kembali ke jadwal semula setelah mendapat tambahan dana segar dari Hoerni, Mortenson cukup gembira karena Changazi datang membantu lagi. Fee dalam rupees yang ia bayarkan kepada Changazi dari setiap transaksi rasanya pantas mengingat jaringannya yang luas. Ia pernah jadi polisi dan tampaknya ia kenal dengan semua orang di kota. Maka setelah Changazi mengantarkan tagihan untuk semua material bangunan yang diperlukan untuk sekolah Mortenson, tidak ada alasan untuk tidak memanfaatkan kemampuannya.

Saat Mortenson tidur di charpoy selama satu pekan di kantor Changazi, tepat dibawah peta dunia usang yang masih mengidentifikasi Tanzania sebagai Tanganyika, ia terhibur dengan cerita-cerita nakal yang disampaikan Changazi. Cuaca baik sepanjang musim panas dan bisnis cukup bagus. Changazi membantu beberapa ekspedisi pendakian, orang Jerman dan Jepang yang menuju K2 dan sekelompok orang Italia yang melakukan pendakian kedua kalinya di Gasherbrum IV. Sehingga Changazi memiliki banyak batangan protein asal Jerman yang menumpuk di kantornya, seperti tumpukan kacang milik tupai di pohon. Dan di belakang mejanya, kotak minuman olahraga dari Jepang bernama Pokhari Sweat bersanding dengan lusinan kotak biskuit.

Akan tetapi hidangan asing yang paling disukai oleh Changazi adalah memiliki nama seperti Hildegund dan Isabella. Terlepas dari fakta bahwa ia memiliki seorang istri dan lima anak yang tinggal di rumah nun jauh di Pindi dan istri kedua yang disimpan di sebuah rumah sewaan dekat dengan kantor superintendent di Skardu, Changazi menghabiskan musim wisata dengan menyelinap ke tempat petualang dan pelancong wanita yang tiba di Skardu dalam jumlah yang terus bertambah.

Changazi menjelaskan pada Mortenson bagaimana ia menyelaraskan antara kegemarannya dengan ketaatannya pada Islam. Bergegas ke masjid setelah ia bertemu Inge atau Aiko yang lain, Changazi memohon izin pada mullah-nya untuk melakukan muthaa, atau perkawinan temporer. Hal ini terhitung biasa di beberapa bagian dari golongan Shiite Pakistan, untuk pria menikah yang mana ia berada dalam situasi jauh dari belaian istri, berperang di tempat yang jauh, atau berkelana dalam trip yang belum selesai. Namun Changazi telah mendapat restu untuk muthaa sejak musim pendakian mulai di bulan Mei. Lebih baik mensakralkan hubungannya (secara agama), walaupun hanya sebentar, dalam perlindungan Allah, jelas Changazi dengan riang kepada Mortenson, ketimbang sekedar bercinta (seks) semata.

Mortenson bertanya apakah wanita yang jauh dari suaminya juga mendapat restu untuk muthaa.

“Tidak, tentu saja tidak,” kata Changazi sembari menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar pertanyaan naif dari Mortenson, sebelum menawarinya biskuit untuk teman minum teh.

(Terjemahan bebas dari Chapter 10 : Building Bridges, dari buku “Three Cups of Tea” oleh Greg Mortenson & David Oliver Relin, 2006)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s