Mencoba Akrab dengan Etgar Keret

seven good years - etgar keret

Apa rasanya menjadi seorang Yahudi? Apakah seorang Yahudi yang juga merupakan warga Israel adalah seperti apa yang dipertontonkan lewat media, bertindak kasar nan intimidatif kepada warga Palestina? Belum tentu. Etgar Keret bisa menjawab pertanyaan anda sekaligus memberikan contoh nyata dalam kehidupannya. Menjadi seorang Yahudi di zaman ini tidak lah mudah, zaman dimana faham anti-Semit bisa jadi masih ada. Setidaknya itu menurut Keret.

Hal ini diceritakan dengan kocak di salah satu esainya yang berjudul, “Pembela Kaum” (sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia) dalam buku karyanya; The Seven Good Years. Keret merasa perlu untuk menyampaikan ceritanya dengan warna humor karena ia merasa dirinya paranoid. Ia masih merasakan bahwa separuh isi dunia masih membenci darah Yahudi yang mengalir di dalam tubuhnya. Dalam esai tersebut, diceritakan Keret nyaris terlibat baku hantam dengan salah seorang pengunjung restoran Bavaria yang berkebangsaan Jerman. Yang terjadi sejatinya kesalahpahaman belaka. Si orang Jerman bermaksud untuk meminta orang yang parkir di depan mobilnya untuk segera memindahkan kendaraannya, hanya saja ia menyampaikan permintaannya tersebut dalam keadaan mabuk. Etgar Keret terlanjur menyangka si orang Jerman berteriak menyuruhnya keluar dari restoran lantaran ia adalah seorang Yahudi.

Kekhawatiran Etgar Keret soal kebangsaannya masuk akal. Toh bukan hanya dia yang merasa paranoid. Ayahnya pun juga demikian, sama paranoidnya. Saat Keret diundang ke Indonesia untuk menghadiri acara Ubud Writer Festival di Bali, sang ayah sebenarnya enggan melepas anaknya pergi. Ia beralasan karena sepengetahuannya Indonesia adalah salah satu Negara yang anti-Israel, bahkan anti-Semit. Keret mencoba meyakinkan ayahnya bahwa semuanya akan baik-baik saja, ditambah dengan penelusurannya lewat internet bahwa faktanya mayoritas penduduk Bali beragama Hindhu, bukan Islam. Sang ayah menimpali dengan brilian.

Berada di tengah kaum minoritas tak serta merta membuat kepalamu aman, kira-kira demikian pendapat sang ayah. Soal ini dipaparkan Etgar Keret pada bagian Teman Tidur Yang Aneh.

Etgar Keret memang jenius. Ia piawai menyodorkan suatu permasalahan dilihat dengan sudut pandangnya yang unik, namun tidak terlepas dari kritik sosial yang ingin ia sodorkan.

Etgar Keret bisa mengatakan sesuatu yang tak wajar kepada anak bayinya yang baru lahir, sesuatu yang mustahil saya lakukan. Beberapa bulan yang lalu, saat tengah menanti anak saya lahir, saya menulis sesuatu untuk calon anak saya tersebut. Saya menyatir syair lagu Gorillaz yang berjudul Dirty Harry yang menyebutkan kalimat ini, the war is over (perang sudah usai). Saya katakan pada calon anak saya, “tidak ada perang disini nak seperti apa yang dibilang Damon Albarn, nanti ayah tunjukkan kepadamu. Ayo.”

Lain halnya dengan Etgar Keret. Ia dengan santai mengatakan bahwa anaknya adalah seorang psikopat karena tingkah lakunya yang kerap bangun malam, mengamuk demi untuk minum susu. Ia bahkan tak ragu menyebut anak bayinya itu seperti boneka Chucky dalam film horror Child’s Play.

Saya tidak mengenal Etgar Keret sebelumnya. Pertama kali saya membaca karya Keret ini adalah saat Arlian Buana membagikan cerita “To The Moon and Back” yang sudah diterjemahkan oleh dirinya sendiri. Ndilalah, kok malah saya jatuh hati pada Keret. Ia bisa menyajikan suatu hal yang sebenarnya biasa, dinamika kehidupan seorang ayah yang telah bercerai dengan istrinya dan merasa bahwa waktu bermain dengan anaknya sendiri, Lidor sangat terbatas. Keret bisa merumuskan suatu cerita biasa menjadi cerita yang rasanya enggan untuk berhenti membacanya di tengah jalan, kentang.

Alhasil saya begitu antusias ngobrol dengan Teddy, sang pemilik POST Santa Bookshop suatu hari ketika saya melihat dua buku karya Keret terpajang manis di salah satu rak tokonya. Teddy dengan baik hati menjelaskan kepada saya bahwa Keret memang terkenal dengan cerita-cerita pendeknya. Yang tersedia di toko saat itu adalah buku kumpulan cerpen Keret yang berjudul The Girl On The Fridge. Kumpulan esai Keret, The Seven Good Years adalah buku yang kedua. Keraguan sempat melanda pikiran saya, yang mana yang akan saya boyong pulang ke rumah untuk menjadi anggota baru perpustakaan kecil saya. Teddy, sekali lagi dengan baik hati, mengatakan bahwa Keret kuat dalam caranya bercerita dan ia berhasil meyakinkan saya untuk lebih memilih buku kumpulan cerpen. Ok, bulat sudah. Lagipula saya tak bisa berlama-lama saat itu karena kedua anak saya, Rei dan Raffa sudah mulai merengek lapar minta makan.

Dan kunjungan saya ke toko buku Togamas pada bulan Januari yang lalu memberikan anugerah tersendiri, saya menemukan buku kumpulan esai Keret, The Seven Good Years. Buku ini sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh mba Ade Kumalasari. Bonusnya, kata pengantar ditulis oleh Eka Kurniawan, novelis yang melanglangbuana dengan karyanya Cantik itu Luka. Jadi saya pikir, tentulah buku ini istimewa.

Harus saya akui, ada ketakutan – kalau tak mau dibilang kebodohan – untuk membaca karya Etgar Keret. Apa pasal? Apalagi kalau bukan karena latar belakang Keret. Dia adalah seorang Yahudi, tinggal di Tel Aviv, Israel. Perlukan saya jelaskan lebih detail? Rasanya tak perlu.

Dan sampailah saya di sini, menulis ulasan soal buku kumpulan esai Etgar Keret. Buku yang berisi keluhannya soal perilaku sopir taksi disana yang cenderung kasar, bertemperamen buruk dan tidak sabaran. Buku ini berisi cara Keret mengenang almarhum ayahnya dengan cara unik; memasukkan sepasang sepatu milik ayahnya kedalam koper tanpa alasan yang jelas. Buku ini berisi renungan Keret soal konflik Timur Tengah yang tak kunjung usai namun dibalik renungannya itu ia sebenarnya ingin menyampaikan harapan akan perdamaian, walaupun sulit. Dan juga buku ini mengajarkan saya tentang bagaimana memantau perkembangan anak dan merangkainya menjadi suatu cerita yang niscaya akan membuat masing-masing dari anak kita akan tersenyum, tergelak tertawa, geli, terdiam dan bahkan menangis ketika membaca ulang semua cerita itu. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s